Bertahan ≠ Nyaman

 


Bertahan bukan tanda nyaman.

 

"Sekarang kalo gak nyaman gak mungkin bisa hampir setahun."

 

Beberapa hari lalu, aku dapat pesan dari entah siapa, tapi ada.

 

Kalau bicara bertahan, kita semua bisa bertahan, mau pun itu gak nyaman, tapi karena sudah sayang, kadang jadi dipaksakan.

 

Sudah berusaha nyaman, tapi malah disia-siakan. Bahkan malah disakiti, bukan fisiknya, tapi hatinya.

 

"Meninggalkan orang yang menyakitimu tidak sulit. Kau tinggalkan saja dia." (Cloak and Dagger)

 

Jangan terlalu lama memendam, gak baik buat badan.

Jangan terlalu lama bersedih dalam diam, gak baik buat kesehatan.

Jangan terlalu banyak memberi kesempatan, jika pada akhirnya kembali diulang.

 

Kalau memang sayang, tanpa harus diperingatkan, seharusnya sudah bisa memperbaiki diri dan hubungan.

 

Masalahnya bukan terletak pada bisa atau tidak bisa. Letak masalahnya itu pada mau atau tidak mau.

 

Percuma bilang "Aku bisa berubah!", kalau tidak disertai dengan kemauan untuk berubah.

 

Semua orang bisa, tapi gak semua orang mau.


Jakarta, 14 Januari 2020

0 comments:

Posting Komentar